SINGKAWANG, KALBAR //
Kalau sebuah kota sudah terlalu sering dipenuhi tanda tanya, publik akhirnya punya hak untuk bertanya lebih keras: sebenarnya siapa yang takut pada siapa—masyarakat kepada kekuasaan, atau kekuasaan kepada pemeriksaan?
Kini cerita dugaan persoalan tata kelola dan berbagai isu yang selama ini menjadi sorotan di Singkawang memasuki babak yang lebih menarik. Bola mulai diarahkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Bukan karena masyarakat ingin membuat panggung baru. Justru karena panggung lama dianggap belum mampu memberikan jawaban yang memuaskan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dan di sinilah dimulai.
Kalau semua bersih, mengapa harus gelisah?
Kalau semua sesuai aturan, mengapa pemeriksaan dianggap seperti ancaman?
Kalau tidak ada permainan kekuasaan, bukankah seharusnya klarifikasi bisa dilakukan dengan kepala tegak, dokumen terbuka, dan data yang bisa diuji?
Atau jangan-jangan, di negeri ini ada jenis kekuasaan yang begitu sakti sehingga ketika rakyat bertanya, jawabannya cukup: “Tenang, semua sudah sesuai prosedur.”
Prosedur memang penting. Tetapi publik juga tahu, kata “prosedur” kadang bisa menjadi payung paling nyaman untuk berteduh ketika pertanyaan mulai turun seperti hujan.
Kini KPK mendapat bola panas.
Publik ingin melihat apakah lembaga antirasuah itu mampu masuk ke ruang yang selama ini dianggap terlalu nyaman bagi para pemilik pengaruh. Sebab hukum tidak seharusnya mengenal kasta: rakyat kecil diperiksa dengan kaca pembesar, sementara pemilik jaringan diperiksa dengan kacamata hitam.
Tentu, semua ini masih berada dalam ranah dugaan. Tidak boleh ada pihak yang langsung divonis bersalah hanya berdasarkan tudingan atau opini. Justru karena itulah pemeriksaan yang objektif menjadi penting.
Jika laporan masyarakat ternyata tidak memiliki dasar, sampaikan dengan terang.
Jika hanya kesalahpahaman, luruskan.
Jika ada administrasi yang keliru, benahi.
Tetapi jika pemeriksaan menemukan indikasi penyalahgunaan kewenangan, konflik kepentingan, permainan anggaran, atau pelanggaran hukum, maka jangan sampai perkara berhenti hanya karena yang diperiksa bukan orang biasa.
Sebab hukum yang hebat bukan hukum yang berani kepada mereka yang tidak punya kekuatan.
Hukum yang hebat adalah hukum yang tetap berdiri tegak ketika berhadapan dengan kekuasaan.
Maka istilah “Genk Singkawang” dalam tulisan ini bukanlah vonis terhadap kelompok tertentu, melainkan sebuah sindiran terhadap persepsi publik tentang adanya lingkaran kekuasaan yang dianggap terlalu kuat dan terlalu sulit disentuh.
Kalau memang tidak ada “genk”, tentu tidak perlu panik.
Buktikan saja bahwa semua berjalan transparan.
Karena pada akhirnya, publik tidak membutuhkan drama “siapa orangnya?”.
Publik membutuhkan jawaban atas pertanyaan yang jauh lebih sederhana:
Apa yang benar dan apa yang salah?
KPK pun jangan sampai hanya menjadi nama besar yang muncul dalam pemberitaan, kemudian menghilang bersama debu laporan masyarakat.
Sebab masyarakat tidak sedang meminta karpet merah.
Mereka hanya meminta pintu pemeriksaan dibuka.
Periksa jika memang ada dasar.
Klarifikasi jika masih berupa dugaan.
Telusuri jika ada bukti awal.
Tindak jika unsur pelanggaran terpenuhi.
Dan hentikan jika ternyata tidak terbukti.
Sesederhana itu.
Yang menjadi persoalan adalah ketika masyarakat sudah kehilangan kepercayaan karena terlalu lama menunggu jawaban. Dalam kondisi seperti itu, satu-satunya obat bukan konferensi pers penuh kata-kata manis.
Obatnya adalah transparansi.
Jadi, siapa yang akan menang dalam babak final ini?
KPK?
“Genk Singkawang”?
Atau justru publik yang selama ini hanya menjadi penonton dari tribun paling belakang?
Jawabannya tidak perlu dibuat dengan spanduk besar.
Tidak perlu pula dengan slogan politik.
Buka dokumennya. Periksa faktanya. Uji buktinya. Jelaskan hasilnya.
Karena jika semuanya memang bersih, pemeriksaan seharusnya bukan momok.
Sebaliknya, jika ada yang selama ini merasa kebal, mungkin inilah saatnya mengetahui bahwa tembok kekuasaan setinggi apa pun tetap bukan benteng anti-hukum.
Babak final sudah dimulai.
Sekarang kita lihat saja: siapa yang benar-benar berani sampai garis akhir.
Editor: MN


















