Jakarta,
DI DEPAN LAYAR DAN MIMBAR: Kita sering disuguhkan retorika manis tentang moral, pengabdian, dan janji suci untuk rakyat. Namun, sebuah jurang menganga lebar antara kata-kata yang diucapkan dan praktik yang dijalankan.
Ini bukan lagi soal perbedaan pendapat biasa, melainkan pengkhianatan mendasar terhadap etika dan kepercayaan publik. Inilah saatnya kita menatap lurus, tanpa basa-basi, pada borok yang bernama kemunafikan kekuasaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di depan kamera, kalian bicara soal moral. Di depan rakyat, kalian bicara soal pengabdian. Tapi di balik pintu kekuasaan, kalian bersekutu dengan kepentingan. Mulut kalian penuh janji, tapi tangan kalian penuh kepentingan pribadi.
Kalian menyerukan kejujuran, namun menutup mata pada kebusukan sendiri. Kalian marah pada kritik, tapi diam pada kejahatan yang menguntungkan. Kalian mengutip nilai dan etika, namun mengkhianatinya setiap hari.
Inilah wajah kemunafikan: berpura-pura membela rakyat, sambil menghisap darahnya perlahan. Rakyat tidak bodoh. Kami melihat, kami mencatat, dan kami tidak akan lupa. Karena pejabat munafik adalah racun bagi negeri ini.
Mereka merusak kepercayaan, menghancurkan masa depan. Dan hari ini kami bersuara, agar kemunafikan tidak terus berkuasa.
Suara Rakyat disampaikan dengan jelas menggambarkan bahwa pejabat munafik adalah racun paling mematikan bagi negeri ini.
Mereka merusak kepercayaan, menghancurkan fondasi etika, dan menggadaikan masa depan bangsa demi keuntungan sesaat.
Rakyat telah melihat, mencatat, dan kini bersuara. Kami tidak bodoh, dan kami tidak akan pernah lupa. Suara Rakyat ini adalah penolakan tegas terhadap kemunafikan yang terus berkuasa.
Hari ini adalah awal dari pembersihan, agar kekuasaan sejati kembali pada integritas.
Penulis : Dicky S
Editor : Teresya S















