KAPUAS HULU, KALBAR — Pelaksanaan tradisi Nuba Adat di Sungai Silat, Kecamatan Silat Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu, bukan sekadar kegiatan menangkap ikan secara bersama-sama. Tradisi turun-temurun masyarakat etnis Seberuang Ensilat tersebut juga menjadi momentum kebersamaan dan perekat hubungan sosial masyarakat lintas suku dan agama.
Ketua Panitia Nuba Adat, Yohanes Gerai, mengatakan Nuba Adat merupakan tradisi masyarakat Seberuang Ensilat yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak zaman leluhur.

Menurutnya, tradisi tersebut tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga mengandung makna sosial dan spiritual yang tetap dijaga masyarakat hingga saat ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Yohanes menjelaskan, berdasarkan kepercayaan yang diwariskan para leluhur, pada kondisi kemarau ekstrem pelaksanaan Nuba Adat diyakini sebagai salah satu bentuk ikhtiar adat untuk menjauhkan masyarakat dari sampar atau penyakit sekaligus memohon datangnya hujan.
«“Kami menggunakan tuba tradisional berupa akar-akaran, bukan zat kimia,” tegas Yohanes Gerai saat ditemui dalam persiapan ritual, Senin (17/8/2026) malam.»
Ia mengatakan penggunaan bahan tradisional merupakan bagian dari tata cara pelaksanaan Nuba Adat. Masyarakat berupaya mempertahankan tradisi tersebut sesuai nilai dan ketentuan adat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Antusiasme masyarakat terhadap pelaksanaan Nuba Adat kali ini terbilang tinggi. Meskipun informasi kegiatan telah disampaikan sekitar dua minggu sebelumnya, warga yang datang pada hari pelaksanaan disebut terus bertambah secara spontan.
Panitia memperkirakan sekitar 500 orang menghadiri kegiatan tersebut. Warga berdatangan dari berbagai tempat dan berasal dari beragam latar belakang suku maupun agama.
Kehadiran masyarakat tersebut menunjukkan bahwa Nuba Adat tidak hanya menjadi milik satu kelompok, tetapi telah menjadi momentum kebersamaan yang mampu mempererat hubungan antarmasyarakat.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat dapat saling berinteraksi, bergotong royong dan memperkuat tali persaudaraan di tengah keberagaman yang ada di Kabupaten Kapuas Hulu.
Bagi masyarakat Seberuang Ensilat, Nuba Adat juga memiliki arti penting sebagai bagian dari identitas dan warisan budaya leluhur. Nilai kebersamaan, gotong royong, persaudaraan serta penghormatan terhadap keberagaman menjadi pesan sosial yang menyertai pelaksanaan tradisi tersebut.
Pelestarian Nuba Adat diharapkan dapat terus dilakukan dengan tetap memperhatikan nilai-nilai adat, kelestarian lingkungan serta ketentuan yang berlaku, sehingga warisan budaya tersebut dapat diteruskan kepada generasi mendatang.
Tradisi ini sekaligus menjadi salah satu gambaran bagaimana kearifan lokal dapat menjadi ruang untuk merawat persaudaraan dan kerukunan lintas suku serta agama di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.
Penulis:
Maurianus Ajan

















