Kemarau dan Kabut Asap, Momentum Menjaga Air dan Merawat Alam

- Redaksi

Kamis, 24 September 2026 - 13:53 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

KALIMANTAN BARAT | Gaperta.com — Kemarau panjang dan kabut asap yang terjadi di sejumlah wilayah bukan hanya persoalan cuaca. Kondisi tersebut juga dapat menjadi momentum bagi masyarakat untuk kembali menyadari betapa pentingnya menjaga keseimbangan alam, terutama hutan, sungai dan sumber-sumber air.

Ketika hujan tidak turun dalam waktu yang cukup lama, dampaknya perlahan mulai terasa. Kelembapan tanah berkurang, debit sejumlah sumber air dapat menurun, tanaman membutuhkan lebih banyak perhatian, sementara kebutuhan manusia terhadap air tidak pernah berhenti.

Pada saat seperti inilah kita semakin memahami bahwa air bukan sekadar pelengkap kehidupan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Air adalah salah satu unsur utama yang menopang kehidupan manusia, hewan dan tumbuhan.

Setiap hari air digunakan untuk minum, memasak, mandi, mencuci, pertanian, peternakan hingga berbagai kegiatan ekonomi. Karena itu, persoalan ketersediaan air sesungguhnya tidak boleh hanya menjadi perhatian ketika musim kemarau tiba.

Air yang Sering Dianggap Biasa

Dalam kehidupan sehari-hari, sebagian dari kita mungkin masih membuka keran tanpa pernah memikirkan bagaimana air tersebut tersedia.

Selama air masih mengalir, kita cenderung menganggapnya sebagai sesuatu yang akan selalu ada.

Namun kemarau memberi pelajaran berbeda.

Ketika sumur mulai berkurang, sungai menyusut atau masyarakat kesulitan memperoleh air bersih, setiap tetes air tiba-tiba menjadi sangat berharga.

Kondisi tersebut seharusnya mengubah cara pandang kita terhadap air. Menghemat air bukan berarti takut kekurangan, tetapi merupakan bentuk tanggung jawab terhadap sumber daya alam yang kita gunakan bersama.

Dalam perspektif keimanan, perubahan kondisi alam juga dapat menjadi bahan perenungan bahwa manusia memiliki keterbatasan dan tidak dapat hidup terpisah dari alam yang menopangnya.

Apa yang selama ini terlihat sederhana ternyata memiliki nilai luar biasa ketika mulai sulit diperoleh.

Kabut Asap Mengingatkan Pentingnya Menjaga Hutan

Selain kekeringan, musim kemarau juga sering meningkatkan kerentanan terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

Kabut asap bukan hanya mengganggu pandangan mata. Kehadirannya dapat memengaruhi aktivitas masyarakat dan menjadi tanda bahwa ekosistem sedang menghadapi tekanan.

Karena itu, kebakaran hutan dan lahan tidak seharusnya dipandang sebagai persoalan yang selesai ketika api padam.

Pencegahan jauh lebih penting.

Tidak membuka lahan dengan cara membakar, menjaga kawasan hutan, mengawasi titik rawan kebakaran serta meningkatkan kepedulian masyarakat merupakan bagian dari upaya menjaga lingkungan.

Sebab hutan bukan sekadar kumpulan pepohonan.

Hutan membantu menjaga tata air, melindungi tanah, menjadi habitat berbagai makhluk hidup dan memiliki peran penting dalam keberlangsungan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Jaga Sungai Kecil, Jangan Tunggu Mengering

Perhatian terhadap lingkungan juga perlu diberikan kepada sungai-sungai kecil, mata air, rawa dan kawasan resapan.

Sungai kecil terkadang dianggap tidak penting karena debitnya tidak sebesar sungai utama. Padahal, keberadaannya dapat menjadi bagian dari jaringan sumber air yang sangat berarti bagi kehidupan masyarakat.

Jangan menunggu sungai mengering untuk kemudian menyadari nilainya.

Jangan menunggu mata air rusak untuk mulai membicarakan perlindungan lingkungan.

Menjaga sempadan sungai, tidak membuang sampah dan limbah sembarangan, mempertahankan pepohonan di sekitar sumber air serta mencegah perusakan kawasan resapan merupakan langkah nyata yang dapat dilakukan sejak sekarang.

Lingkungan Adalah Titipan untuk Generasi Berikutnya

Menjaga lingkungan bukan hanya untuk kepentingan masyarakat hari ini.

Anak cucu kita kelak juga membutuhkan air bersih, udara sehat, hutan yang terjaga, tanah yang subur dan sungai yang tetap mengalir.

Karena itu, tanggung jawab terhadap lingkungan seharusnya menjadi kesadaran bersama—mulai dari masyarakat, dunia usaha hingga pemerintah.

Kemarau dan kabut asap hendaknya tidak dijadikan alasan untuk saling menyalahkan.

Sebaliknya, keadaan ini dapat menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri:

Apa yang sudah kita lakukan untuk menjaga alam?

Apakah kita sudah menggunakan air dengan bijaksana?

Apakah kita sudah menjaga sungai dari sampah dan pencemaran?

Apakah kita sudah ikut melindungi hutan dan lahan dari kebakaran?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut penting karena persoalan lingkungan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kerusakan sering berawal dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus dan dianggap biasa.

Menjaga Air Berarti Menjaga Kehidupan

Kemarau memberikan satu pelajaran penting: ketika sumber air mulai berkurang, manusia baru benar-benar memahami betapa berharganya air.

Karena itu, kesadaran menjaga air harus dibangun sebelum datang krisis.

Hematlah air meskipun persediaannya masih cukup.

Jagalah sungai meskipun airnya masih mengalir.

Rawatlah pohon meskipun udara masih terasa sejuk.

Lindungi hutan sebelum api datang.

Dan jagalah sumber-sumber air sebelum kita kehilangan sesuatu yang sangat sulit dikembalikan.

Air menjaga kehidupan.
Hutan menjaga sumber air.
Sungai menghubungkan kehidupan dari satu wilayah ke wilayah lainnya.

Mari menjaga air, menjaga hutan dan menjaga sungai-sungai kecil sebagai bagian dari cadangan kehidupan.

Sebab alam yang kita rawat hari ini adalah warisan yang akan diterima generasi setelah kita.

Penulis: Maurianus Ajan

Follow WhatsApp Channel gaperta.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Edi Rusdi Kamtono Dinilai Perlu Banyak Belajar dari Sutarmidji, Kurangi Ego Sektoral
Menang Telak Pilkades, Hj. Desi Kurniati Malik Tegaskan Bukan Cari Popularitas dan Kekayaan
KLARIFIKASI DAN RALAT PEMBERITAAN TERKAIT PEMBERITAAN KAPOLSEK MEMPAWAH HULU IPTU FREDY DIDUGA MAFIA MIGAS UNTUK PETI DAN PUNGLI
Pemdes N-3 Aek Nabara Gelar Musdes RKPDes 2027, Sutrisno: Usulan Dibahas Sesuai Skala Prioritas
Kepala Desa Pondok Batu Bersama Warga Peringati Maulid Nabi di Sukamulya Utara
Akses Vital Empat Desa, Jembatan Sungai Jitan di Seberu Butuh Penanganan Segera
Camp Dan Care di Bekas Karhutla, Cara Pemuda Sejiram Suarakan Nasib Hutan
PTPN IV Regional I DLAB 3 Salurkan TJSL Rp353,9 Juta untuk 38 Objek di Labuhanbatu
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 24 September 2026 - 13:53 WIB

Kemarau dan Kabut Asap, Momentum Menjaga Air dan Merawat Alam

Senin, 21 September 2026 - 06:46 WIB

Edi Rusdi Kamtono Dinilai Perlu Banyak Belajar dari Sutarmidji, Kurangi Ego Sektoral

Minggu, 20 September 2026 - 18:37 WIB

Menang Telak Pilkades, Hj. Desi Kurniati Malik Tegaskan Bukan Cari Popularitas dan Kekayaan

Minggu, 20 September 2026 - 13:40 WIB

KLARIFIKASI DAN RALAT PEMBERITAAN TERKAIT PEMBERITAAN KAPOLSEK MEMPAWAH HULU IPTU FREDY DIDUGA MAFIA MIGAS UNTUK PETI DAN PUNGLI

Minggu, 20 September 2026 - 13:37 WIB

Pemdes N-3 Aek Nabara Gelar Musdes RKPDes 2027, Sutrisno: Usulan Dibahas Sesuai Skala Prioritas

Berita Terbaru

Regional

Kemarau dan Kabut Asap, Momentum Menjaga Air dan Merawat Alam

Kamis, 24 Sep 2026 - 13:53 WIB