Dapur MBG di Kapuas Hulu Jadi Sorotan, Warga Minta Bangunan Tak Hanya Kenyang Anggaran, Tapi Juga Kenyang Kualitas !!!

- Redaksi

Selasa, 26 Mei 2026 - 18:12 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kapuas Hulu, Kalbar
Pembangunan Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Nanga Dua, Kecamatan Bunut Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, tengah menjadi perbincangan masyarakat.

Bukan karena aroma masakan yang sudah mengepul dari dapur program nasional tersebut, melainkan karena munculnya pertanyaan warga terkait kesesuaian material bangunan dengan spesifikasi teknis yang disebut tercantum dalam dokumen perencanaan.

Dalam berbagai diskusi warga, muncul harapan agar bangunan yang nantinya menjadi pusat pelayanan gizi itu tidak hanya berdiri kokoh di atas kertas administrasi, tetapi juga benar-benar kokoh secara fisik di lapangan.

ADVERTISEMENT

.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pelaksana pembangunan, Eko, membantah anggapan bahwa pekerjaan yang dilakukan tidak sesuai standar. Ia menegaskan pembangunan tetap mengacu pada spesifikasi dan luasan bangunan yang diminta oleh Badan Gizi Nasional (BGN).

“Kita bangun dapur MBG itu sesuai spesifikasi dan luasan yang diminta BGN pusat,” ujarnya, Selasa (26/5/2026).

Menurut Eko, penggunaan material tertentu seperti kayu dan bahan lainnya tidak diatur secara rinci oleh BGN. Ia menyebut konstruksi yang dibangun tetap mengedepankan aspek kekuatan dengan memadukan material beton dan kayu.

“Terkait kayu dan bahan lain dalam pembangunan tersebut tidak diatur langsung oleh BGN. Bahkan pembangunan dapur MBG kami juga menggunakan beton,” katanya.

Namun di sisi lain, sejumlah warga mengaku mencermati gambar bestek dan dokumen teknis yang beredar. Dalam dokumen tersebut disebutkan adanya penggunaan material kayu kelas I atau kayu Belian pada beberapa bagian utama konstruksi, mulai dari tiang badan bangunan, balok gelagar induk, pondasi, hingga elemen struktur lainnya.

Di sinilah cerita menjadi menarik. Jika dokumen berbicara tentang kayu kelas I, maka masyarakat berharap realisasinya juga berbicara dalam bahasa yang sama. Sebab dalam dunia konstruksi, kualitas material bukan sekadar pelengkap administrasi, melainkan fondasi kepercayaan publik.

Salah seorang warga, Sumardi, mengatakan masyarakat mempertanyakan kesesuaian material yang digunakan dengan spesifikasi yang tercantum dalam RAB dan gambar kerja.

“Di dalam RAB dan gambar kerja jelas mengutamakan kayu kelas I atau Belian. Tapi kenyataan di lapangan masyarakat melihat kayu yang dipakai diduga tidak sesuai spesifikasi kontrak. Ini yang menjadi pertanyaan warga,” ujarnya.

Menurutnya, apabila benar terdapat perbedaan antara spesifikasi dan pelaksanaan, hal tersebut berpotensi memengaruhi kualitas bangunan dalam jangka panjang. Terlebih, kondisi geografis Kapuas Hulu yang memiliki tingkat kelembapan tinggi dan sebagian wilayah berupa lahan rawa membutuhkan material yang benar-benar sesuai peruntukan.

“Kalau bangunan pemerintah, apalagi program nasional seperti MBG, seharusnya kualitas material benar-benar diperhatikan. Jangan sampai pekerjaan terkesan asal jadi,” tegasnya.

Publik menilai bangunan pelayanan gizi idealnya tidak mengalami “diet spesifikasi”. Jika dalam perencanaan tertulis material premium, maka masyarakat berharap yang hadir di lapangan juga memiliki kualitas yang sepadan.

Sebab, yang akan diuji nantinya bukan hanya laporan progres, melainkan ketahanan bangunan menghadapi waktu, cuaca, dan penggunaan sehari-hari.

Sementara itu, pihak pelaksana menyatakan proyek masih dalam tahap penyelesaian akhir. Progres pekerjaan disebut telah mencapai sekitar 90 persen dan saat ini memasuki tahap finishing.

“Sekarang masih tahap finishing seperti tangga dan instalasi listrik,” kata Eko.

Masyarakat berharap Badan Gizi Nasional maupun instansi teknis terkait dapat melakukan verifikasi dan pemeriksaan langsung terhadap kualitas pekerjaan serta kesesuaian material yang digunakan.

Langkah tersebut dinilai penting agar tidak muncul perbedaan persepsi antara dokumen perencanaan, pelaksanaan di lapangan, dan harapan publik.

Pada akhirnya, warga berharap dapur MBG yang dibangun benar-benar menjadi simbol keberhasilan program peningkatan gizi masyarakat. Sebab, bangunan yang baik bukan hanya terlihat selesai saat diresmikan, tetapi juga mampu bertahan dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.

Sumber: Warga Masyarakat Desa Nanga Dua, Kecamatan Bunut Hulu, Kabupaten Ketapang

Follow WhatsApp Channel gaperta.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PPN RU II Kilang Dumai dan Kilang Balikpapan Salur 1.090 Masker KN95 Untuk Warga Kalimantan
Jaga Keamanan Aset, Dirjen SPPR Imbau para Pemilik Tanah untuk Pasang Patok Tanda Batas
POLEMIK AREAL DAS DI KEBUN AEK NABARA UTARA, PIHAK AFDELING III BERIKAN PENJELASAN: FAKTA LAPANGAN DAN BATAS LAHAN HARUS JADI ACUAN!
KADES N-8 AEK NABARA DEDI SUNGKOWO BUKA SUARA SOAL ANGGARAN DESA 2025, TEGASKAN PENGELOLAAN HARUS BERDASARKAN ATURAN
Nasib Petani Sawit Silat Hilir Terancam, PT RAP Berhenti Beroperasi, Pemda dan Perusahaan Ditagih Kepastian!
Jelang Sertijab 154 Kades se-Kabupaten Bekasi, Ketua APPPIPP Soroti Transparansi Aset Desa Wajib Buka Data TKD dan BUMDes
ASISTEN AFDELING 3 KEBUN AEK NABARA UTARA UTAMAKAN KENYAMANAN KERJA, KARYAWAN APRESIASI KEPEMIMPINAN
Atap Sekolah Bocor, Orang Tua Murid PAUD Anugerah Jitan di Kapuas Hulu Turun Tangan: Gotong Royong Jadi Jawaban di Tengah Keterbatasan
Berita ini 37 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 08:52 WIB

PPN RU II Kilang Dumai dan Kilang Balikpapan Salur 1.090 Masker KN95 Untuk Warga Kalimantan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 08:48 WIB

Jaga Keamanan Aset, Dirjen SPPR Imbau para Pemilik Tanah untuk Pasang Patok Tanda Batas

Minggu, 18 Oktober 2026 - 06:18 WIB

POLEMIK AREAL DAS DI KEBUN AEK NABARA UTARA, PIHAK AFDELING III BERIKAN PENJELASAN: FAKTA LAPANGAN DAN BATAS LAHAN HARUS JADI ACUAN!

Kamis, 15 Oktober 2026 - 04:26 WIB

KADES N-8 AEK NABARA DEDI SUNGKOWO BUKA SUARA SOAL ANGGARAN DESA 2025, TEGASKAN PENGELOLAAN HARUS BERDASARKAN ATURAN

Selasa, 13 Oktober 2026 - 02:17 WIB

Nasib Petani Sawit Silat Hilir Terancam, PT RAP Berhenti Beroperasi, Pemda dan Perusahaan Ditagih Kepastian!

Berita Terbaru