Entikong Disorot, Pengamat Desak Kolaborasi Nyata Antar Instansi Tanpa Ego Sektoral!

- Redaksi

Jumat, 3 April 2026 - 09:52 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pontianak, Kalbar
Pernyataan Kepala Seksi Imigrasi Entikong terkait komitmen menjalankan tugas sesuai standar operasional prosedur (SOP) terus menuai perhatian. Pengamat hukum dan kebijakan publik, Dr. Herman Hofi Munawar, menilai bahwa komitmen tersebut secara normatif sudah tepat, namun implementasi di lapangan masih perlu diuji secara nyata dan terukur.

Menurut Herman, wilayah Pos Lintas Batas Negara Entikong merupakan gerbang utama darat antara Indonesia dan Malaysia yang memiliki kompleksitas tinggi, sehingga tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan administratif semata.

“Secara normatif dan ideal, penegasan komitmen untuk berpegang teguh pada SOP tentu patut disambut baik oleh publik. Namun, yang menjadi persoalan adalah adanya kesenjangan antara komitmen di media dengan praktik di lapangan,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menegaskan bahwa publik menuntut lebih dari sekadar pernyataan. Bukti konkret seperti penurunan angka penyelundupan serta pelayanan yang bebas dari pungutan liar menjadi indikator utama keberhasilan.

“Penegasan komitmen oleh Imigrasi Entikong patut diapresiasi sebagai upaya menjaga kedaulatan negara. Namun, publik menunggu bukti nyata berupa penurunan angka penyelundupan dan peningkatan kualitas layanan yang bebas dari pungutan liar,” tegasnya.

Lebih jauh, Herman menyoroti pentingnya transformasi digital dalam sistem pengawasan perbatasan. Ia menilai bahwa di era modern, pengawasan tidak lagi cukup mengandalkan pemeriksaan manual.

“Kita pahami bahwa Entikong adalah gerbang utama darat antara Indonesia dan Malaysia. Penegakan SOP di era digital seharusnya tidak lagi hanya mengandalkan pemeriksaan fisik dan personel. Pemanfaatan teknologi seperti biometric gate untuk mendeteksi keabsahan dokumen, serta sensor pengawasan di jalur tidak resmi atau ‘jalur tikus’, seharusnya sudah terintegrasi,” ungkapnya.

Ia mengingatkan bahwa penguatan pengawasan di pintu resmi akan menjadi tidak efektif apabila jalur-jalur non-prosedural di sekitar kawasan perbatasan tidak diawasi dengan standar yang sama.

“SOP yang ketat di gerbang resmi akan sia-sia jika jalur-jalur non-prosedural di sekitar perbatasan tidak diawasi secara optimal,” tambahnya.

Namun demikian, dalam perspektif yang lebih strategis, Herman menilai bahwa persoalan utama dalam manajemen perbatasan tidak semata terletak pada ketersediaan SOP maupun kecanggihan teknologi, melainkan pada lemahnya koordinasi antarinstansi.

“Dalam perspektif manajemen perbatasan, hambatan terbesar biasanya bukan pada ketersediaan SOP atau penggunaan teknologi, tetapi pada koordinasi antarinstansi yang belum berjalan optimal dan masih adanya ego sektoral,” tegasnya.

Ia mempertanyakan sejauh mana kolaborasi antar lembaga yang terlibat dalam pengawasan perbatasan telah berjalan secara sistemik dan terukur, bukan sekadar formalitas.

“Pertanyaannya, sejauh mana kolaborasi antarinstansi ini bersifat sistemik dan terukur, bukan hanya sebatas pertemuan seremonial atau koordinasi sambil ‘ngopi-ngopi’,” kritik Herman.

Menurutnya, integritas aparat tetap menjadi fondasi utama dalam memastikan seluruh sistem berjalan efektif. Integritas tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga moralitas dalam menghadapi tekanan di lapangan.

“Integritas bukan sekadar soal kepatuhan terhadap teks SOP, melainkan soal moralitas petugas dalam menjalankan aturan tersebut di bawah tekanan atau godaan di wilayah perbatasan yang rawan,” pungkasnya.

Dengan berbagai sorotan tersebut, penguatan pengawasan di Entikong dinilai harus dilakukan secara komprehensif—mulai dari implementasi SOP, integrasi teknologi, hingga sinergi antarinstansi yang solid dan bebas dari ego sektoral. Publik pun kini menanti langkah konkret yang tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga berdampak nyata di lapangan.

 

Penulis : MN/Tim-Red

Editor : MN

Sumber Berita: Dr.Herman Hofi Munawar,SH

Follow WhatsApp Channel gaperta.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Solidaritas Pemuda Pancasila untuk Gimbal Hutapea, PAC Bilah Hulu Kawal Penanganan Kasus Penikaman
Dari Sehelai Kain, Pesan Merawat Warisan Bangsa: Lapas Siborongborong Maknai Hari Batik Nasional 2026
Pj Kades di Sukatani Resmi Dilantik, Camat Agus Dahlan: Jaga Integritas dan Pelayanan Jangan Terganggu
Pemdes N-8 Kebun Salurkan BLT kepada 15 KPM, Tiga Bulan Dibayarkan Sekaligus
Kemarau dan Kabut Asap, Momentum Menjaga Air dan Merawat Alam
Edi Rusdi Kamtono Dinilai Perlu Banyak Belajar dari Sutarmidji, Kurangi Ego Sektoral
Menang Telak Pilkades, Hj. Desi Kurniati Malik Tegaskan Bukan Cari Popularitas dan Kekayaan
KLARIFIKASI DAN RALAT PEMBERITAAN TERKAIT PEMBERITAAN KAPOLSEK MEMPAWAH HULU IPTU FREDY DIDUGA MAFIA MIGAS UNTUK PETI DAN PUNGLI
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 07:07 WIB

Solidaritas Pemuda Pancasila untuk Gimbal Hutapea, PAC Bilah Hulu Kawal Penanganan Kasus Penikaman

Jumat, 2 Oktober 2026 - 02:58 WIB

Dari Sehelai Kain, Pesan Merawat Warisan Bangsa: Lapas Siborongborong Maknai Hari Batik Nasional 2026

Selasa, 29 September 2026 - 05:25 WIB

Pj Kades di Sukatani Resmi Dilantik, Camat Agus Dahlan: Jaga Integritas dan Pelayanan Jangan Terganggu

Jumat, 25 September 2026 - 22:15 WIB

Pemdes N-8 Kebun Salurkan BLT kepada 15 KPM, Tiga Bulan Dibayarkan Sekaligus

Kamis, 24 September 2026 - 13:53 WIB

Kemarau dan Kabut Asap, Momentum Menjaga Air dan Merawat Alam

Berita Terbaru

Kesehatan

Ikl

Senin, 5 Okt 2026 - 09:08 WIB