Medan
Selasa (30/12/2025), Seorang korban TPPO mendatangi kelurahan Tegal Sari II, kecamatan Medan area
Miris dan sadis lurah tidak perduli dan tidak mempunyai empati terhadap warga di lingkungannya.
Orang tua korban korban mengemis meminta bantuan kepada pemerintahan, tapi sangat disayangkan, saat di datangi mereka enggan menerima gagasan dari awak media.
Dimana seharusnya mereka merangkul dan menerima semua aspirasi masyarakat, yang sedang membutuhkan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Orang tua korban Nezza Safitri meminta kepada Bapak walikota Medan, Ricco Waas dicopot lurah Tegal Sari II kecamatan Medan Area yang tidak mempunyai empati dan hati nurani.
Kepada korban (TPPO)
Nezza Safitri juga merasakan dimana pemimpin sebagai Lurah itu
Negara hadir disaat rakyatnya membutuhkan, terangnya.
Seharusnya ini sudah bagian tugas mereka yang selalu sigap dan mendampingi korban (TPPO) UU no.21/2002) dan komitmen pemerintahan, implementasi perlindungan korban di setiap siklus kejahatan (pencegahan, penindakan,
pemulihan). Namun saya merasakan.
Saya tidak dianggap menjadi warga negara Indonesia, saya merasakan orang asing bagi mereka, di negriku sendiri.
Nezza juga tidak mendapatkan keadilan sosial bagi dikelurahan Tegal Sari II kecamatan Medan area, tegasnya.
Mereka sudah bersumpah disaat mereka pertama menjabat, tapi mereka abaikan sumpah mereka kepada Tuhan. Yang seharusnya mereka mewakili rakyat, tapi mereka tutup mata kepada masyarakat,
Nezza Safitri merasakan pedih dan pilu, tidak mendapatkan keadilan bagi anaknya yang korban TPPO,
Nezza Safitri, akan melayangkan dan menyurati ke istana Negara,” Bapak Presiden Prabowo Subianto’,.bahkan akan menyurati menteri Perlindungan anak dan perempuan, pungkasnya.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Nezza Safitri Nasution















