LABUHANBATU | GAPERTA.COM — Kepemimpinan yang dekat dengan masyarakat tidak selalu diukur dari banyaknya kebijakan atau program yang diluncurkan. Dalam kehidupan sosial, keteladanan juga dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana yang memberikan manfaat bagi sesama.
Semangat itulah yang tercermin dalam kegiatan donor darah sukarela dan penelusuran kontak tuberkulosis (TBC) yang dilaksanakan di Kantor Desa S-6, Kecamatan Bilah Hulu, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, Rabu (14/10/2026).
Kepala Desa S-6, Tukimin, bersama sejumlah perangkat desa berpartisipasi dalam kegiatan kemanusiaan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap pelayanan kesehatan sekaligus upaya membantu pemenuhan kebutuhan darah bagi masyarakat.
ADVERTISEMENT
.SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.00 WIB hingga sore hari itu diselenggarakan Dinas Kesehatan Kabupaten Labuhanbatu melalui UPT Puskesmas Gunung Selamat, bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Labuhanbatu.
Selain menjadi ruang kepedulian sosial, kegiatan tersebut juga menghadirkan pelayanan pemeriksaan kesehatan bagi masyarakat yang memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TBC.
Dua pelayanan berbeda itu dipadukan dalam satu kegiatan dengan tujuan memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan sekaligus menumbuhkan semangat saling membantu.
Tukimin: Kepedulian Harus Dimulai dari Tindakan Nyata
Di tengah berlangsungnya kegiatan, Kepala Desa S-6, Tukimin, ikut berpartisipasi dalam donor darah sukarela bersama perangkat pemerintahan desa.
Kehadirannya tidak hanya sebagai pimpinan wilayah, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang ingin memberikan kontribusi langsung melalui kegiatan kemanusiaan.
Menurut Tukimin, kepedulian sosial tidak harus selalu diwujudkan melalui sesuatu yang besar. Tindakan sederhana, apabila dilakukan dengan keikhlasan, dapat memiliki arti penting bagi keselamatan orang lain.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa kepedulian terhadap sesama bisa dimulai dari diri sendiri. Donor darah merupakan tindakan kemanusiaan yang sederhana, tetapi sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan,” ujar Tukimin kepada wartawan di sela kegiatan.
Pernyataan tersebut mencerminkan pentingnya keteladanan dalam membangun kesadaran bersama.
Partisipasi perangkat pemerintahan desa diharapkan dapat mendorong warga yang memenuhi persyaratan kesehatan untuk turut mengambil bagian dalam kegiatan donor darah sukarela.
Tukimin juga berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkala, sehingga masyarakat tidak hanya menjadi penerima pelayanan, tetapi juga berkesempatan memberikan kontribusi bagi sesama.
Setetes Darah, Harapan bagi Keselamatan Sesama
Donor darah merupakan salah satu bentuk solidaritas kemanusiaan yang memiliki manfaat besar dalam dunia pelayanan kesehatan.
Ketersediaan darah sangat dibutuhkan untuk membantu pasien yang menjalani tindakan medis tertentu, mengalami perdarahan, maupun membutuhkan transfusi berdasarkan kondisi kesehatannya.
Namun, upaya menjaga ketersediaan darah tidak dapat hanya mengandalkan institusi kesehatan dan PMI. Kesediaan masyarakat menjadi pendonor sukarela juga memegang peranan penting.
Karena itu, kegiatan donor darah yang melibatkan pemerintah desa memiliki nilai lebih dari sekadar pengumpulan kantong darah.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana edukasi bahwa kepedulian terhadap keselamatan sesama merupakan tanggung jawab sosial yang dapat dilakukan secara bersama-sama.
Setiap calon pendonor tetap harus mengikuti pemeriksaan kelayakan oleh petugas kesehatan untuk memastikan proses donor darah berlangsung aman bagi pendonor maupun penerima.
Semangat kemanusiaan yang dibangun melalui kegiatan seperti ini diharapkan dapat terus berkembang menjadi kebiasaan positif di tengah masyarakat.
Tak Hanya Donor Darah, Pemeriksaan TBC Gratis Juga Dilaksanakan
Selain kegiatan donor darah, pelayanan kesehatan terpadu tersebut menghadirkan pemeriksaan rontgen dada secara gratis bagi masyarakat yang memiliki riwayat kontak erat dengan pasien tuberkulosis.
Layanan ini merupakan bagian dari kegiatan penelusuran kontak atau contact tracing TBC untuk membantu menemukan kemungkinan kasus lebih dini.
Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan paling sering menyerang paru-paru.
Penyakit ini dapat menular melalui udara ketika seseorang yang mengalami TBC aktif pada paru atau tenggorokan mengeluarkan kuman, misalnya saat batuk, berbicara, atau bernyanyi.
Karena itu, pemeriksaan bagi orang yang memiliki riwayat kontak erat menjadi salah satu langkah penting dalam upaya pengendalian penularan penyakit.
Pemeriksaan rontgen dada membantu tenaga kesehatan melakukan skrining terhadap kemungkinan kelainan pada paru-paru. Namun, hasil rontgen saja tidak cukup untuk memastikan diagnosis TBC sehingga pemeriksaan lanjutan dapat diperlukan sesuai penilaian tenaga medis.
Tenaga Kesehatan Berikan Edukasi Pencegahan dan Pengobatan
Pelayanan kesehatan dalam kegiatan tersebut turut melibatkan dr. Yunita dari UPT Puskesmas Gunung Selamat.
Selain pemeriksaan, masyarakat memperoleh edukasi mengenai gejala TBC, cara penularan, pencegahan, serta pentingnya menjalani pengobatan sesuai arahan tenaga kesehatan.
Gejala yang perlu diwaspadai antara lain batuk berkepanjangan, demam, berkeringat pada malam hari, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, dan kondisi tubuh yang mudah lelah.
Masyarakat yang mengalami gejala tersebut dianjurkan untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan agar memperoleh penilaian dan penanganan yang tepat.
Edukasi juga diarahkan untuk membangun pemahaman bahwa TBC merupakan penyakit yang dapat diobati dan disembuhkan apabila ditangani dengan tepat serta pengobatan dijalani secara teratur hingga tuntas.
Pemahaman ini penting untuk mengurangi stigma terhadap pasien TBC sekaligus mendorong keluarga dan masyarakat memberikan dukungan selama proses pengobatan.
Sinergi Pemerintah Desa, Puskesmas, dan PMI Perkuat Pelayanan Masyarakat
Kegiatan donor darah dan penelusuran kontak TBC di Desa S-6 memperlihatkan pentingnya kerja sama antara pemerintah desa, lembaga pelayanan kesehatan, organisasi kemanusiaan, dan masyarakat.
Pemerintah desa memiliki peran dalam mendukung pelaksanaan kegiatan serta mengajak warga memanfaatkan pelayanan yang tersedia.
Sementara itu, tenaga kesehatan berperan memberikan pemeriksaan, edukasi, dan penanganan medis sesuai kewenangannya.
PMI turut berperan dalam pelayanan donor darah guna mendukung pemenuhan kebutuhan darah bagi masyarakat.
Kolaborasi seperti ini diharapkan dapat memperkuat akses pelayanan kesehatan, khususnya bagi masyarakat yang membutuhkan pemeriksaan maupun edukasi secara langsung di lingkungan tempat tinggal mereka.
Bagi Tukimin, sinergi antarlembaga merupakan bagian penting dalam membangun desa yang tidak hanya berkembang secara fisik, tetapi juga memiliki masyarakat yang sehat, peduli, dan saling mendukung.
Ia mengajak warga untuk tidak ragu mengikuti kegiatan sosial dan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan pemerintah maupun lembaga terkait, dengan tetap memperhatikan ketentuan dan persyaratan medis.
Kepemimpinan yang Hadir, Kemanusiaan yang Dihidupkan
Kegiatan di Desa S-6 menjadi pengingat bahwa pelayanan publik yang bermakna tidak selalu lahir dari program berskala besar.
Kepedulian yang diwujudkan melalui donor darah, pemeriksaan kesehatan, dan edukasi pencegahan penyakit dapat memberikan manfaat langsung bagi kehidupan masyarakat.
Partisipasi seorang kepala desa bersama perangkatnya juga dapat menjadi teladan bahwa pemimpin tidak hanya memiliki tanggung jawab administratif, tetapi juga peran sosial dalam membangun solidaritas di tengah warganya.
Melalui kegiatan terpadu tersebut, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan dan kepedulian kemanusiaan semakin meningkat.
Ke depan, kesinambungan program, kemudahan akses pelayanan, dan partisipasi masyarakat menjadi faktor penting agar manfaat kegiatan serupa dapat dirasakan lebih luas.
Sebab, kepemimpinan yang bermakna bukan hanya tentang mengarahkan masyarakat untuk berbuat baik, tetapi juga keberanian memberikan contoh melalui tindakan nyata.
Dari Desa S-6, sebuah pesan kemanusiaan kembali disampaikan: kepedulian tidak harus menunggu seseorang memiliki segalanya, karena terkadang tindakan sederhana dapat menghadirkan harapan besar bagi kehidupan orang lain.
Reporter: AP
Editor: Redaksi GAPERTA.COM


















