Bayi Orangutan Tanpa Induk Ditemukan di Kebun Sawit Warga

- Redaksi

Kamis, 22 Januari 2026 - 11:51 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ketapang, Kalbar. — Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah Ketapang bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menyelamatkan satu bayi orangutan betina yang ditemukan tanpa induk di kebun sawit milik warga di Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Bayi orangutan yang kemudian diberi nama Jani ini terlihat oleh warga desa selama beberapa hari di perkebunan sawit. Warga desa melaporkan bahwa individu tersebut terlihat sendirian tanpa keberadaan induknya di sekitar lokasi.

Menindaklanjuti laporan tersebut, tim gabungan segera melakukan verifikasi lapangan dan memastikan bahwa bayi orangutan tersebut memang berada dalam kondisi sendirian di tengah kebun sawit tanpa ada makanan untuknya. Bayi orangutan ini terpantau tidak banyak bergerak dan terlihat kebingungan menunggu induknya.

ADVERTISEMENT

.

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tim sempat juga berupaya mencari induknya tapi hasilnya nihil. Untuk menghindari potensi konflik dengan warga sekaligus menjaga keselamatan satwa, tim verifikasi memutuskan untuk berjaga dan bermalam di lokasi sambil menunggu kedatangan tim penyelamat.

Setelah tim penyelamat tiba dan melakukan observasi langsung terhadap kondisi individu, proses penyelamatan diputuskan untuk dilakukan tanpa menggunakan senjata atau sumpit bius. Keputusan ini diambil mengingat usia orangutan yang masih sangat muda, sehingga penggunaan anestesi dinilai berisiko.

Penanganan dilakukan secara langsung oleh dokter hewan dan animal keeper berpengalaman.
“Secara fisik, Jani tergolong masih sangat muda. Dalam kondisi seperti ini, penggunaan obat bius justru dapat meningkatkan risiko,” jelas (Drh. Komara), dokter hewan YIARI yang terlibat langsung dalam proses penyelamatan.

“Penanganan manual menjadi pilihan paling aman, dengan tetap memperhatikan tingkat stres dan kondisi fisiologis satwa.”
Proses penangkapan berjalan lancar. Jani kemudian dimasukkan ke dalam kandang transport dan dibawa ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa Jani.diperkirakan berusia sekitar 5 tahun. Pada usia tersebut, bayi orangutan seharusnya masih hidup bersama induknya.

“Di alam liar, anak orangutan sangat bergantung pada induknya hingga usia 6–8 tahun, baik untuk perlindungan, asupan nutrisi, maupun pembelajaran perilaku bertahan hidup,” tambah drh. Komara. “Terpisah dari induknya pada usia ini sangat berisiko dan dapat mengancam keselamatan individunya.

“Saat ini, Jani ditempatkan di ruang karantina YIARI dan akan menjalani serangkaian pemeriksaan medis lanjutan dalam beberapa hari ke depan, sambil menunggu kondisi stresnya stabil.

Ketua YIARI, (Silverius Oscar Unggul), menyampaikan bahwa kasus ini kembali menunjukkan tekanan terhadap satwa liar dan habitatnya. “Kasus ini mencerminkan tekanan yang terus meningkat terhadap habitat satwa liar, akibat landskap yang terfragmentasi” ujar Silverius.

“Kami mengapresiasi kerja sama cepat antara masyarakat, mitra lapangan, BKSDA, dan tim YIARI. Ke depan, upaya pencegahan dan edukasi menjadi kunci agar kasus serupa tidak terus berulang. Kami bersama BKSDA Kalimantan Barat akan terus memantau kondisi Jani serta melakukan evaluasi lanjutan terkait kemungkinan penyebab terpisahnya individu ini dari induknya.

Kami juga menerjunkan tim untuk memantau kondisi di sekitar perkebunan guna mencari keberadaan induknya. Apabila induknya berhasil ditemukan, akan diupayakan proses pengembalian bayi orangutan ini kepada induknya sekaligus memindahkannya ke lokasi yang lebih aman.

Namun, jika induknya tidak dapat ditemukan, Jani akan menjalani proses rehabilitasi hingga usianya mencukupi dan siap untuk dilepasliarkan ke habitat yang lebih layak.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, (Murlan Dameria Pane), menyampaikan apresiasinya,kepada semua pihak yang bekerjasama dalam penyelamatan anak orangutan betina ‘Jani’. Di usia 5 tahun, Jani seharusnya masih bersama induknya.

Namun setelah berapa hari dipantau sampai dengan penyelamatan, Jani terlihat sendiri. Kondisi Jani ini merupakan dampak dari tingginya tekanan terhadap habitat orangutan. Salah satu hal penting yang harus kita tingkatkan bersama adalah edukasi dan penyadartahuan kepada semua pihak untuk bersama-sama menjaga keanekaragaman hayati orangutan dan habitatnya serta satwa liar lainnya.

Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) merupakan lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pelestarian primata di Indonesia dengan berbasis pada upaya penyelamatan, pemulihan, pelepasliaran, dan pemantauan pasca lepas liar.

YIARI juga berkomitmen memberikan perlindungan primata dan habitatnya dengan pendekatan holistik melalui kerja sama multipihak untuk mewujudkan ekosistem harmonis antara habitat, satwa, dan manusia.

Penulis : Bambang

Editor : Redaksi

Follow WhatsApp Channel gaperta.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PPN RU II Kilang Dumai dan Kilang Balikpapan Salur 1.090 Masker KN95 Untuk Warga Kalimantan
Jaga Keamanan Aset, Dirjen SPPR Imbau para Pemilik Tanah untuk Pasang Patok Tanda Batas
Ketua SC Muskab KORMI Tegaskan Hasnah Putri Jaya Siregar Terpilih Sebagai Ketua
Kepala Desa Endang Tegaskan Pengelolaan Anggaran Berpedoman pada Musyawarah Desa, Mulai dari Pemeliharaan Lampu Jalan, Pelatihan Masyarakat hingga Program Pencegahan Narkoba
POLEMIK AREAL DAS DI KEBUN AEK NABARA UTARA, PIHAK AFDELING III BERIKAN PENJELASAN: FAKTA LAPANGAN DAN BATAS LAHAN HARUS JADI ACUAN!
KADES N-8 AEK NABARA DEDI SUNGKOWO BUKA SUARA SOAL ANGGARAN DESA 2025, TEGASKAN PENGELOLAAN HARUS BERDASARKAN ATURAN
Nasib Petani Sawit Silat Hilir Terancam, PT RAP Berhenti Beroperasi, Pemda dan Perusahaan Ditagih Kepastian!
Jelang Sertijab 154 Kades se-Kabupaten Bekasi, Ketua APPPIPP Soroti Transparansi Aset Desa Wajib Buka Data TKD dan BUMDes
Berita ini 35 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 08:52 WIB

PPN RU II Kilang Dumai dan Kilang Balikpapan Salur 1.090 Masker KN95 Untuk Warga Kalimantan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 08:48 WIB

Jaga Keamanan Aset, Dirjen SPPR Imbau para Pemilik Tanah untuk Pasang Patok Tanda Batas

Kamis, 22 Oktober 2026 - 02:01 WIB

Ketua SC Muskab KORMI Tegaskan Hasnah Putri Jaya Siregar Terpilih Sebagai Ketua

Rabu, 21 Oktober 2026 - 12:58 WIB

Kepala Desa Endang Tegaskan Pengelolaan Anggaran Berpedoman pada Musyawarah Desa, Mulai dari Pemeliharaan Lampu Jalan, Pelatihan Masyarakat hingga Program Pencegahan Narkoba

Minggu, 18 Oktober 2026 - 06:18 WIB

POLEMIK AREAL DAS DI KEBUN AEK NABARA UTARA, PIHAK AFDELING III BERIKAN PENJELASAN: FAKTA LAPANGAN DAN BATAS LAHAN HARUS JADI ACUAN!

Berita Terbaru