Perilaku Orang Tua Berdampak Anak Melakukan Bullying di Sekolah, Begini Kata Psikolog

Selasa, 12 Maret 2024 – 12:39 WIB

VIVA – Kasus bullying saat ini memang sedang marak terjadi. Baik di tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Menurut Irma Gustiana selaku Psikolog dan Ahli Parenting, fenomena bullying ini makin marak terjadi pasca pandemi. 

Baca Juga :

Orang Tua Wajib Tahu, Ini Ciri-ciri Anak Jadi Korban Bullying

Ia mengatakan jika anak-anak mungkin kehilangan pembentukan karakter. Selain itu kasus bullying juga bisa disebabkan karena faktor lingkungan rumah.

Irma Gustiana, Psikolog dan Ahli Parenting

Baca Juga :

Kombinasi Pengobatan Kanker Paru dengan Imunoterapi Janjikan Harapan Hidup Lebih Tinggi

Ternyata memang, kata Irma, faktor keluarga itu memberikan kontribusi cukup signifikan terhadap terjadinya bullying. Kurangnya perhatian orang tua terhadap anak adalah salah satu penyebabnya.

“Karena faktor orang tua sibuk, kurang memberikan perhatian, atau memang di dalam rumahnya itu terjadi banyak aktivitas bullying,” ujarnya saat ditemui awak media di kawasan Cianjur, Jumat, 8 Maret 2024.

Baca Juga :

Kanker Ganas yang Tingkat Kematiannya dalam Hitungan Bulan Ini, Ternyata Disebabkan Rokok

Aktivitas bullying di dalam rumah biasanya terjadi karena percekcokan antara orang tua. Insiden ini ketika di lihat oleh sang anak, maka mereka akan menirukan karena dianggap kekerasan itu hal yang wajar.

“Si anak melihat aktivitas itu sebagai normalisasi bahwa mengancam itu normal karena di keluarganya melakukannya,” pungkasnya.

Irma mengatakan jika pelaku bullying ini memiliki anggota atau membentuk sebuah geng. Biasanya geng ini diwariskan oleh kakak kelas mereka. Seharusnya, sekolah bisa memangkas warisan geng ini.

“Harusnya sekolah itu segera memangkas. Jadi tidak ada lagi geng-gengan. Karena geng itu reputasinya negatif,” tandasnya.

Bagaimana cara mengatasi kasus bullying agar terhindar?

Menurutnya, orang tua dan pihak sekolah harus bekerja sama dalam menghadapi kasus bullying ini. Dari pihak keluarga bisa memberikan sistem pengasuhan yang positif, dan tidak mempraktikkan tindak kekerasan yang bisa saja anaknya mengetahui kejadian itu.

“Keluarga perlu memberikan sistem pengasuhan yang positif, tidak mempraktikan cara-cara kekerasan, itu udah pasti,” jelasnya.

Sementara itu untuk pihak sekolah seharusnya ada sistem pengaduan untuk pelaporan kasus bullying. Hal ini perlu dilakukan untuk mengurangi kasus bullying di sekolah.

Seperti yang telah diterapkan di salah satu SMP di Cianjur, pihak sekolah memberikan nomor pengaduan atau call center jika terjadi kasus bullying. Dengan adanya pelaporan tersebut maka kasus akan segera ditangani. 

Dari pengakuan pihak sekolah, hal ini sangat memiliki dampak yang positif. Sebab anak-anak merasa bersekolah dengan nyaman dan aman.

Selain itu, kata Irma, pihak lainnya seperti pemerintah pusat maupun lembaga kepolisian turut serta memberikan edukasi terkait bullying. Mulai dari dampaknya, hingga hukum-hukum yang berlaku. Sehingga anak-anak lebih peduli dan tidak melakukan bullying karena akan berdampak untuk masa depan.

Halaman Selanjutnya

“Si anak melihat aktivitas itu sebagai normalisasi bahwa mengancam itu normal karena di keluarganya melakukannya,” pungkasnya.

Halaman Selanjutnya



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *