Liburan Jangan Abai! Ini Penyakit Sering Mengintai Wisatawan, Apalagi yang Doyan Kulineran

Senin, 1 Januari 2024 – 16:46 WIB

VIVA Lifestyle – Cuaca beberapa waktu belakangan sangat tak menentu hingga memberikan efek buruk bagi kesehatan. Siang hari yang sangat panas tiba-tiba berubah jadi hujan lebat di malam harinya. Hal ini lantas membuat banyak orang mengalami batuk dan pilek, hingga kasus pneumonia dan COVID-19 kembali meningkat di Indonesia.

Baca Juga :

Arab Saudi Minta Jemaah Haji Pakai Masker Saat Berada di Dua Masjid Ini

Padahal, ini adalah waktu yang tepat untuk pergi liburan akhir tahun mengingat anak-anak juga sedang dalam masa liburan sekolah. Tetapi akibat tingginya penyebaran berbagai penyakit, suka cita hari libur jadi terganggu dan membuat semua orang waspada agar tidak mudah terpapar virus. Scroll untuk info selengkapnya, yuk!

“Kondisi udara yang tidak baik ini juga berkontribusi pada kesehatan saluran pernapasan. Di berita pun kasus pneumonia sedang meningkat, penyakit infeksi yang menyebabkan inflamasi pada paru-paru. Penyebab pneumonia bisa dari virus atau bakteri. Salah satu penyebabnya, virus influenza yang sering kali dianggap ringan,” ujar Medical Manager Vaccine PT Kalventis Sinergi Farma, dr. Thomas Aditya, dalam live Instagram @ptkalbefarmatbk.

Baca Juga :

3 Gaya Kece Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah Liburan di Korea, Ameena Juga Ikut OOTD

Namun, kata dr. Thomas, masih ada masyarakat yang salah persepsi antara influenza dan batuk-pilek yang common cold. Gejala kedua kondisi ini memiliki kemiripan, tetapi tingkat keparahannya berbeda.

Baca Juga :

Gowes Jakarta-Malang Dimulai, Mau Menginspirasi Lansia agar Tetap Aktif

Pada kondisi influenza, terjadi demam, pilek, dan batuk yang lebih berat. Bahayanya, influenza bisa menyebabkan komplikasi pneumonia, hingga berisiko menyerang sistem lain. Misalnya, risiko serangan jantung atau penyakit lainnya, bahkan menyebabkan kematian.

Penyebaran penyakit yang menyerang pernapasan ini akan semakin berbahaya jika terjadi penularan pada wisatawan pada liburan akhir tahun. Dokter Thomas menjelaskan, dari 100.000 pelaku perjalanan ke negara berkembang selama satu bulan, setengahnya atau 50.000 orang dapat mengalami masalah kesehatan. Beberapa penyebabnya ialah mabuk laut pada perjalanan jalur laut hingga kelelahan selama bepergian.

“Salah satu yang tersering yaitu juga penyakit infeksi. Dari 50.000 yang mengalami masalah kesehatan, ada 8.000 yang konsultasi ke tenaga kesehatan. Sangat sayang kalau pergi liburan untuk bersenang-senang malah harus beristirahat atau bed rest. Sebanyak 300 harus dirawat di rumah sakit, bahkan ada yang mengancam jiwa,” tuturnya.

Tidak hanya penyakit influenza dan infeksi, para pelancong terutama yang gemar berkuliner juga patut mewaspadai penularan tifoid. Demam tifoid disebabkan oleh bakteri salmonella typhi, yang ditularkan melalui makanan. Sedangkan demam tifus disebabkan oleh bakteri rickettsia, yang ditularkan ke manusia melalui arthropoda seperti kutu atau tungau. 

Ilustrasi bisnis kuliner.

Oleh sebab itu, sangat penting menjaga pola makan dan memilih tempat kuliner yang bersih agar makanan yang disajikan pun terjaga kualitasnya.

“Pada studi di Journal of Travel Medicine tahun 2018, kira-kira 1 dari 100 traveler akan terkena influenza saat traveling. Tujuan kita saat traveling itu kan salah satunya kulineran, yang berisiko penularan tifoid. Tifoid sendiri kasusnya 1 per 1000 traveler,” ungkap dr. Thomas.

Halaman Selanjutnya

“Salah satu yang tersering yaitu juga penyakit infeksi. Dari 50.000 yang mengalami masalah kesehatan, ada 8.000 yang konsultasi ke tenaga kesehatan. Sangat sayang kalau pergi liburan untuk bersenang-senang malah harus beristirahat atau bed rest. Sebanyak 300 harus dirawat di rumah sakit, bahkan ada yang mengancam jiwa,” tuturnya.

Halaman Selanjutnya



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *