Libur Natal dan Tahun Baru Waspada Kolesterol Tinggi, Hindari Makan Manis dan Berlemak

JAKARTA – Libur Natal dan akhir tahun seringkali dijadikan momen untuk liburan bareng keluarga. Di sela-sela momen liburan, berburu kuliner tentu tak pernah dilewatkan. Aneka makanan manis, pedas bahkan aneka makanan pinggir jalan yang viral seringkali jadi buruan. Nah buat kamu pecinta kuliner, meski menikmati aneka kuliner dan jajanan adalah hal yang menyenangkan, tetap harus menjaga kesehatan. 

Baca Juga :

Pria Berjanggut Pembawa Hadiah, Dari Mana Sebenarnya Asal Usul Sinterklas?

Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Pondok Indah – Puri Indah dr. Wirawan Hambali, Sp. P. D mengingatkan, jangan lupa masyrakat yang menjalani liburan tetap menjaga pola makan yang sehat. 

“Harus tetap diterapkan ya. Waspadai gangguan kolesterol, sebuah bahaya tersembunyi dalam makanan Anda. Kondisi medis ini sering kali tidak terlihat dan bergejala, akan tetapi bisa menjadi ancaman serius bagi kesehatan Anda,” katanya mengingatkan. 

Baca Juga :

Paus Fransiskus Kecam Serangan Israel Tewaskan 70 Warga Palestina saat Malam Natal

Spesialis Penyakit Dalam RS Pondok Indah, dr. Wirawan Hambali, Sp. P. D.,FINASIM

Apa Itu Kolesterol?

Baca Juga :

Rumah Tangga Hampir Kandas, Natal Tahun Ini Jadi Keajaiban Bagi Lady Nayoan dan Rendy Kjaernett

Kolesterol kata dr Wirawan adalah lemak yang beredar di dalam tubuh. Di dalam darah, lemak kolesterol ini dibawa oleh protein. Gabungan keduanya disebut dengan lipoprotein. Dalam kadar yang sesuai, kandungan tersebut sebenarnya dibutuhkan oleh tubuh dalam membantu membangun sel-sel baru, membantu tubuh
memproduksi vitamin D, sejumlah hormon, dan asam empedu untuk mencerna lemak. Selain itu, senyawa ini juga dibutuhkan tubuh untuk proses pencernaan, produksi hormon, dan membentuk vitamin D. Namun, jika kadarnya terlalu tinggi, hal tersebut dapat membahayakan tubuh karena akan menyebabkan berbagai penyakit dan komplikasi.

“Kolesterol disebut mengalami gangguan, apabila nilainya berada di luar dari rentang nilai normal yang seharusnya.”

Dua jenis utama lipoprotein adalah lipoprotein dengan kepadatan rendah (LDL) atau kolesterol jahat. Disebut jahat, karena peningkatan kadar LDL di dalam tubuh dapat meningkatkan risiko pembentukan plak dalam pembuluh darah arteri, yang dapat menimbulkan penyempitan aliran darah dan menyebabkan masalah pada jantung, otak, dan bagian tubuh lainnya. 

Sedangkan lipoprotein dengan kepadatan tinggi (HDL) atau kolesterol baik berfungsi untuk membantu mengangkut kolesterol(membersihkan/scavenger) dari pembuluh darah arteri untuk kembali ke dalam hati.

Prevalensi gangguan kolesterol di dunia dan Indonesia Gangguan kolesterol adalah masalah kesehatan global yang cukup umum. Data dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa kadar kolesterol tinggi adalah faktor risiko utama untuk penyakit pembuluh darah jantung dan stroke, yang merupakan penyebab utama kematian di dunia.

Di Indonesia prevalensi gangguan kolesterol sendiri juga cukup tinggi. Menurut data Kementerian Kesehatan Indonesia (RISKESDAS 2018), proporsi penduduk Indonesia berusia lebih dari 15 tahun yang mengalami gangguan kolesterol adalah sekitar 21,2 persen (Kadar Kolesterol Total 200-239 mg/dL), dan 7,6 persen
(Kadar Kolesterol= 240 mg/dL). Ini menunjukkan bahwa banyak orang di Indonesia berisiko terkena penyakit jantung dan stroke akibat gangguan kolesterol.

Kriteria diagnosis gangguan kolesterol

1.Kolesterol total: nilai di atas 200 mg/dL dianggap tinggi
2.Kolesterol LDL: nilai di atas 100 mg/dL dianggap tinggi
3.Kolesterol HDL: nilai di bawah 40 mg/dL pada pria dan 50 mg/dL pada wanita dianggap rendah
4.Trigliserida: nilai di atas 150 mg/dL dianggap tinggi.

Di luar kriteria yang berlaku umum, terdapat juga kriteria yang berlaku spesifik sesuai dengan kondisi kesehatan, penyakit, serta profil risiko yang Anda miliki. Sebagai contoh berdasarkan panduan dari ESC (European Society of Cardiology) 2019, pasien gangguan kolesterol yang memiliki tekanan darah lebih dari 180/110 mmHg atau menyandang diabetes melitus lebih dari 10 tahun, dianjurkan untuk mencapai kadar kolesterol LDL di bawah 70 mg/dL. Berdasarkan panduan yang sama, pasien gangguan kolesterol yang disertai dengan penyakit pembuluh darah aterosklerosis, dianjurkan untuk mencapai kadar kolesterol LDL di bawah 55 mg/dL. Anda yang memiliki kondisi tersebut, memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami komplikasi terkait penyakit pembuluh darah, sehingga diharapkan dapat mencapai kadar kolesterol LDL yang lebih rendah.

Gejala kolesterol

Hati-hati, kadar kolesterol tinggi biasanya tidak menimbulkan gejala apapun. Dalam kebanyakan kasus, gejala baru terasa saat kondisi ini mengarah pada pembentukan plak di dalam pembuluh arteri. Plak dapat mempersempit arteri sehingga hanya sedikit darah yang dapat melewatinya. Pembentukan plak mengubah susunan lapisan arteri. Saat terjadi pengendapan pada dinding arteri, terjadi penurunan aliran darah di jantung, otak, dan bagian tubuh lainnya. Kadar kolesterol tinggi meningkatkan risiko seseorang terkena penyempitan arteri atau aterosklerosis, penggumpalan darah di bagian-bagian tubuh tertentu, stroke, sampai serangan jantung.

Faktor risiko gangguan kolesterol

Ilustrasi konsumsi permen dan makanan manis berlebih

Ilustrasi konsumsi permen dan makanan manis berlebih

“Pola makan yang tidak sehat sering kali dianggap sebagai faktor utama seseorang memiliki kadar kolesterol yang tinggi. Menyambut libur akhir tahun, ada baiknya Anda tetap ‘sadar’ dalam memilih jenis makanan maupun minuman yang akan dikonsumsi,” kata dr Wirawan.

dr Wirawan juga mengingatkan, waspadalah terhadap makanan yang mengandung tinggi lemak jenuh dan gula karena dapat meningkatkan kadar kolesterol. Selain pola makan yang tidak sehat, ada beberapa faktor risiko lain yang dapat meningkatkan kemungkinan Anda mengalami gangguan kolesterol, antara lain:

1. Kurangnya aktivitas fisik: Kehidupan yang kurang aktif/sedentary lifestyle dapat berkontribusi
pada munculnya gangguan kolesterol
2. Faktor genetik: Riwayat keluarga dengan gangguan kolesterol dapat meningkatkan risiko Anda
mengalami gangguan kolesterol
3. Faktor usia: Risiko gangguan kolesterol cenderung meningkat seiring bertambahnya usia
4. Merokok: Kebiasaan merokok dapat mengurangi kadar HDL dan meningkatkan risiko penyakit jantung

Pencegahan dan pengelolaan gangguan kolesterol

Pencegahan dan pengelolaan gangguan kolesterol adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan Anda. Beberapa langkah yang dapat Anda ambil meliputi:

1. Perubahan gaya hidup: Menerapkan pola makan sehat dengan menghindari makanan tinggi
lemak jenuh, kolesterol, makanan olahan, makanan dengan kadar garam dan kadar gula tinggi.
Peningkatan aktivitas fisik juga dapat membantu mencegah dan mengelola gangguan kolesterol.
Penting juga untuk menghindari alkohol dan menghentikan kebiasaan merokok

2. Penggunaan obat-obatan: Jika perubahan gaya hidup tidak cukup efektif, dokter dapat
meresepkan obat-obatan untuk membantu menurunkan kadar kolesterol. Perlu diingat bahwa
penggunaan obat-obatan jenis statin dapat memberikan dampak pada kehamilan. Penggunaan
obat statin pada wanita usia produktif, terkait dengan manfaat dan risiko yang dapat
ditimbulkan, dapat dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter spesialis penyakit dalam
3. Pemeriksaan rutin: Lakukan pemeriksaan kadar kolesterol secara rutin sesuai dengan petunjuk
dokter spesialis penyakit dalam. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah profil
lipid di laboratorium
4.  Edukasi: Perkaya diri Anda dengan informasi tentang gangguan kolesterol dan dampaknya pada kesehatan Anda. Pengetahuan yang lebih baik dapat membantu Anda membuat keputusan yang lebih baik terkait dengan kesehatan Anda

“Jadi, penting untuk tetap menerapkan pola makan yang sehat dan bergizi seimbang selama liburan ya. Supaya kondisi tubuh tetap fit dan bugar, sempatkan juga berolahraga, serta istirahat yang cukup.”

Jangan ragu untuk melakukan screening dan mengkonsultasikan kondisi Anda dengan dokter spesialis penyakit dalam jika Anda memiliki kadar kolesterol tinggi. Salam sehat!

Halaman Selanjutnya

Dua jenis utama lipoprotein adalah lipoprotein dengan kepadatan rendah (LDL) atau kolesterol jahat. Disebut jahat, karena peningkatan kadar LDL di dalam tubuh dapat meningkatkan risiko pembentukan plak dalam pembuluh darah arteri, yang dapat menimbulkan penyempitan aliran darah dan menyebabkan masalah pada jantung, otak, dan bagian tubuh lainnya. 

Halaman Selanjutnya



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *