Curah Hujan Tinggi, Bencana Banjir Bandang dan Longsor jadi Ancaman Baru di Sumsel

Rabu, 29 November 2023 – 22:42 WIB

Palembang – Penjabat (Pj) Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Agus Fatoni memimpin apel kesiapsiagaan personel dan peralatan penanggulangan bencana banjir dan tanah longsor. Apel diikuti 1.000 orang personel gabungan terdiri dari Badan SAR Nasional (Basarnas), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI/Polri.

Baca Juga :

Puluhan Orang Tewas Akibat Sambaran Petir Dahsyat

Fatoni menyampaikan apel kesiapsiagaan penanggulangan bencana perlu dilakukan untuk mengetahui kesiapan personel dan peralatan sebagai bagian dari upaya pencegahan dalam menghadapi bencana.

“Dengan kesiapan ini diharapkan dapat berikan rasa nyaman kepada masyarakat dari ancaman bencana. Walaupun kita juga berharap bencana itu tidak terjadi,” kata Fatoni, dalam keterangannya, Rabu, 29 November 2023.

Baca Juga :

Banjir Bandang Terjang 2 Desa di Lereng Merbabu, Motor Hanyut

Lokasi Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan) beberapa waktu lalu.

Photo :

  • ANTARA FOTO/Rony Muharrman

Fatoni menuturkan Sumsel baru saja melewati ujian cukup berat terkait kabut asap yang ditimbulkan imbas Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Namun, kondisi itu tersebut teratasi menyusul beralihnya cuaca dari musim kemarau ke musim hujan.

Baca Juga :

UMP Banten 2024 Hanya Naik Rp 66 Ribu, ‘Kalau Ricuh, Buruh Diminta Nego Pengusaha’

“Di balik curah hujan yang tinggi terdapat ancaman baru yakni bencana banjir bandang dan tanah longsor yang kapan saja datang mengancam beberapa wilayah di Provinsi Sumsel,” jelas Fatoni.

Dia mengingatkan agar semua personel satgas penanggulangan bencana bisa tetap waspada dengan berikan edukasi dan peringatan dini kepada masyarakat di daerahnya masing-masing.

“Kondisi ekologi seperti degradasi alam, perilaku manusia ini dapat kita perbaiki. Namun, ini tak bisa kita kerjakan secara sendiri-sendiri. Kita perlu bersama secara komprehensif untuk mengatasinya,” jelas Fatoni.

Pun, Fatoni menambahkan agar mitigasi terus dilakukan demi mengurangi risiko jika terjadi bencana banjir dan tanah longsor. Dia menyebut, merujuk data kejadian bencana di Sumsel pada 2022 sebanyak 147 kali kejadian. Sedangkan, hingga November 2023 tercatat 69 kali kejadian bencana.

“Mudah-mudahan dengan kesiapsiagaan kita, bencana ini tidak bertambah lagi. Walaupun terjadi kita berharap tak menimbulkan sampai menimbulkan kerusakan sarana prasarana dan  korban jiwa,” ujar Fatoni.

Sementara, Kepala Pelaksana BPBD Sumsel M. Iqbal Alisyahbana mengatakan musim penghujan seperti sekarang ini perlu dilakukan upaya pencegahan dan kesiapsiagaan. Salah satu upaya yang bisa dilakukan dengan penyiapan personel dan peralatan.

“Mobilisasi personel dan peralatan ke lokasi bencana atau ke daerah rawan bencana dilakukan sebagai bentuk pertolongan berupa penyelamatan dan evakuasi untuk meminimalisir dampak bencana berupa kerusakan sarana prasarana maupun korban jiwa,” tuturnya.

Dia menyebut, tujuan dilakukan apel ini juga diharapkan untuk meningkatkan kemampuan personil dan kesiapan peralatan penanggulangan banjir serta tanah longsor.

“Mengoptimalkan peran, tugas dan tanggung jawab masing-masing dinas, instansi, stakeholder terkait dalam penanggulangan bencana banjir dan tanah longsor agar korban jiwa dan harta dapat diminimalisir,” sebutnya.

Halaman Selanjutnya

“Kondisi ekologi seperti degradasi alam, perilaku manusia ini dapat kita perbaiki. Namun, ini tak bisa kita kerjakan secara sendiri-sendiri. Kita perlu bersama secara komprehensif untuk mengatasinya,” jelas Fatoni.

Halaman Selanjutnya



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *